Sunday, January 21, 2007

Penangkapan Teroris di Poso, Dua Polisi dan Dua Warga Tewas

Poso – Penyergapan DPO Teroris di Poso, Senin (22/1) sejak pukul 07.00 WITA hingga siang hari ini, oleh tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri dan Polda Sulteng berakhir dengan baku tembak. Akibat baku tembak itu di Jalan Pulau Irian, Kelurahan Gebang Rejo, Poso Kota itu, empat dilaporkan tewas. Dua orang Polisi dan dua orang warga sipil yang diidentifikasi sebagai kelompok Mujahiddin Tanah Runtuh.

Seorang Polisi yang tewas berasal dari Densus 88 diketahui bernama Brigadir Polisi Dua Rony. Ia tewas tertembak di kepala. Seorang Polisi lainnya belum diketahui. Adapun warga sipil yang diketahui tewas adalah Om Gam dan Ustadz Mahmud. Keduanya adalah warga Kelurahan Gebang Rejo, Poso Kota.

Selain korban tewas, seorang Polisi dan dua warga sipil lainnya terluka akibat tembakan. Mereka adalah Inspektur Polisi Dua Maslikan, dan dua warga sipil yakin Kusno (35) seorang penjual bakso dan Paijo (40), seorang tukang ojek. Warga sipil yang ditembak ini merupakan korban salah sasaran. Keduanya masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Poso.

Saat ini, situasi Kota Poso menegangkan. Aktivitas di Pasar Sentral Poso terhenti. Banyak pedagang memilih menutup took dan lapak-lapaknya. Sementara sebagian besar kantor pemerintahan mulai sepi, karena para Pegawai Negeri Sipil (PNS) memilih pulang untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan. ***

Friday, January 19, 2007

Sehari, Kota Poso Diguncang Tiga Ledakan

Poso - Teror belum belum juga berhenti. Kamis (18/1) sejak pagi hingga malam tiga kali ledakan mengguncang Kota Poso, Sulawesi Tengah. Polisi menduga pelakunya adalah tersangka teroris yang sudah dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang Mabes Polri.

Ledakan pertama terjadi sekitar pukul 09.15 WITA di belakang Bank Sulteng, Jalan Pulau Sumbawa. Bom tersebut meledak di dalam saluran air. Dari penyisiran yang dilakukan Tim Forensik Polda Sulteng ditemukan Kalium Klorat dengan wadah dari botol air minum air mineral.

Iwan Ahmad, warga setempat menuturkan suara ledakan terdengar cukup keras. Suaranya terdengar hingga radius 1 kilometer.

"Untungnya tidak ada orang di sekitar tempat kejadian. Kalau ada mungkin akan ada lagi korban jiwa," kata Iwan.

Usai itu, sekitar pukul 18.00 WITA, sebuah bom molotov dilemparkan dua pengendara motor ke arah Gereja Eklesia, Poso Kota. Anggota Brimob yang berjaga di pos tersebut tidak berhasil mengejar pelaku karena mereka tidak berkendaraan.

Rupanya, para pembom belum puas. Sekitar pukul 23.00 WITA, mereka kembali mengulangi aksinya. Sebuah bom molotov kembali dilemparkan ke Gereja Eklesia. Beruntung tidak ada korban jiwa maupun kerusakan berarti akibat tiga peledakan bom itu.

Kapolres Poso AKBP Rudi Sufahriadi menyatakan pelaku peledakan bom ini sudah teridentifikasi.

"Mereka adalah DPO Mabes Polri. Selain untuk menebarkan teror mereka juga coba mematahkan nyali anggota Polri yang bertugas di Poso," demikian Rudi.***

Tuesday, January 16, 2007

Pemilik Senjata Illegal akan Ditembak Mati

Poso – Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah segera mengeluarkan maklumat tembak di tempat bagi warga Poso yang memiliki senjata tanpa kewenangan. Pernyataan ini disampaikan Kapolda Sulteng Brigadir Jenderal Polisi Badrodin Haiti menyusul baku tembak antara kelompok mujahiddin dengan anggota Brimob, Senin (15/1) sore hingga Selasa (16/1) dinihari tadi.

Kapolda Badrodin menyatakan keprihatinannya atas masih banyaknya senjata-senjata api baik rakitan maupun organik yang dimiliki oleh warga Poso yang memicu aksi-aksi kekerasan bersenjata. Padahal selama ini, pihak kepolisian sudah mengimbau warga Poso untuk menyerahkan senjata api, amunisi dan bahan peledak yang mereka miliki secara illegal.

Hal itu dimaksudkan untuk memperkecil aksi kekerasan di Poso dan juga memperkecil ruang gerak bagi pelaku terorisme. Selama ini dari penyitaan yang dilakukan oleh pihak kepolisian, warga Poso diketahui memiliki senjata api rakitan dan organik dari berbagai jenis, semisal M-16, SKS, Senapan Serbu dan US Thompson.

Dari penyelusuran intelijen jalur masuknya senjata-senjata illegal itu ke Poso selain dari dalam negeri juga didapat dari Philipina. Diduga senjata-senjata itu dipasok oleh militan Moro didistribusi ke Poso melalui Sangir Talaud, Bitung, Manado di Sulawesi Utara lalu melalui jalur Pantai Utara Parigi Moutong hingga ke Poso, Sulawesi Tengah.

Badrodin menyatakan pula bahwa sebagian pelaku terorisme di Poso adalah lulusan Akademi Militer Afganistan. Sebagian besar di antara mereka berasal dari luar Poso dan Sulawesi.

“Mereka ini yang kita identifikasi memprovokasi warga Poso untuk melawan hukum, melakukan peledakan bom dan penembakan-penembakan,” demikian Badrodin.

Sementara terkait dengan Ustad Ryan alias Santoso yang tertembak mati pada Kamis (11/1) lalu dalam penyergapan DPO Mabes Polri di Jalan Pulau Jawa II, Poso, Ia menyatakan bahwa korban adalah salah seorang pentolan Jamaah Islamiyah. Ustadz Ryan pernah memerintahkan untuk membuat 15 bom yang akan diledakkan di Poso. Pada saat penyergapan Kamis lalu, ia pun terlihat memegang dan akan melemparkan bom, karenanya ia ditembak.***

Situasi Poso Mencekam, Sekolah dan Pasar Tutup

Poso - Mencekamnya situasi Kota Poso, Sulawesi Tengah, sejak Senin malam hingga Rabu akibat baku tembaknya kelompok mujahiddin dengan aparat Brimob, membuat warga kota poso ketakutan. Sekolah-sekolah diliburkan, took-toko di pasar pun sebagian besar ditutup.

Sebagian besar warga lebih memilih berdiam diri di rumah, karena khawatir. Sementara Polisi besenjata lengkap dan menggunakan rompi antipeluru berjaga-jaga di beberapa titik rawan di dalam Kota Poso. Ketegangan ini menyusul baku tembaknya mujahiddin dan aparat Brimob di Jalan Pulau Irian pada Senin sore hingga Selasa lalu.

Kepala SDN No 17 Poso Haeriah Tanua menyatakan sekolah diliburkan atas permintaan orang tua. Mereka khawatir anak-anaknya terkena peluru nyasar, baik dari kelompok mujahiddin maupun polisi.

“Orang tua takut anaknya menjadi korban salah tembak atau apa. Makanya mereka meminta sekolah diliburkan sampai mereka merasa aman,” kata

Sementara, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Poso, Selasa siang mengadakan rapat dengar pendapat dengan Kepala Kepolisian Resor AKBP Rudi Sufahriadi. Serta Bupati Poso Piet Ingkiriwang. Mereka meminta agar untuk sementara operasi Polisi dihentikan agar tidak ada lagi korban jiwa yang jatuh.

Namun Kapolres Poso menyatakan bahwa yang mereka lakukan adalah penegakan hukum. Targetnya adalah para tersangka terorisme utamanya 18 orang DPO Mabes Polri.

“Yang kami minta adalah kerjasama dari masyarakat, karena aksi-aksi pelaku kekerasan itu selama ini sudah mengganggu keamanan dan kedamaian di Poso,” tandas Rudi.***

Monday, January 15, 2007

Kelompok Mujahidin Tembak Menembak dengan Brimob

Poso - Kota Poso, Sulawesi Tengah kembali memanas. Menyusul tertangkapnya enam orang dan ditembak matinya dua tersangka terorisme di Poso oleh tim Detasemen Khusus 88 Antiteror dalam sebuah penyergapan ketakutan masih saja mencekam warga Kota Poso. Senin (15/1) sore hingga Selasa (16/1) dinihari tembak menembak antara Satuan Brimob dan kelompok Mujahiddin Kayamanya kembali terjadi. Namun tidak ada korban dalam aksi tembak menembak itu.

Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Brigadir Jenderal Polisi Badrodin Haiti menyatakan bahwa warga yang diduga digerakan oleh sejumlah tersangka terorisme yang sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Mabes Polri menghadang patroli Polisi di Jalan Irian Jaya, Kelurahan Gebangrejo, Poso Kota.

“Mereka melakukan penghadangan patroli Polisi dengan memasang barikade di jalan-jalan yang akan dilalui. Mereka juga melakukan pelemparan dan penembakan yang dibalas oleh anggota sebagai tindakan bela diri,” jelas Badrodin.

Badrodin juga menyampaikan bahwa Polisi sampai kini masih terus mengejar 18 orang tersangka terorisme yang sudah dimasukkan dalam DPO Mabes Polri.


Patroli Polisi yang sebagian besarnya berasal dari Satuan Brimob dengan menggunakan baracuda, kendaraan taktis lapis baja berhasil membersihkan barikade yang dibuat warga. Namun warga terus melakukan perlawanan dengan melempar dan menembak.

Dari kesaksian Ahmad, warga Kelurahan Gebangrejo suasana benar-benar mencekam sejak Senin sore hingga Selasa dinihari. Lampu-lampu jalan sengaja dimatikan. Sementara suara tembak-menembak terus terdengar.

“Saya sempat melihat ada warga yang menenteng senjata laras panjang, kemungkinan M-16. Meski kalah jauh dengan patroli Polisi mereka berhasil memukul mundur aparat sampai ke depan Pasar Sentral Poso,” tuturnya.

Sementara itu, suasana Selasa pagi kembali normal. Aktivitas ekonomi di Pasar Sentral Poso kembali seperti biasanya. Lalu lintas pun kembali ramai, seperti tidak terjadi sesuatu.***

Saturday, January 13, 2007

Dua DPO Terorisme Diduga Pelaku Bom Betalembah

Palu – Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah menyatakan sudah mengetahui identitas dua pelaku peledakan bom di jalan raya, poros Poso-Napu pada Rabu (27/12) lalu. Saat ini tersangka yang identitasnya dirahasiakan terus diburu aparat gabungan. '' Ada dua pelakunya. Saat ini dalam pencarian aparat,'' kata Kapolda Brigjen Pol Badrodin Haiti, Rabu (3/12).

Kapolda menjelaskan, bom yang meledak di pinggir jalan tepatnya di Desa Betalembah itu, merupakan aksi teror oleh pelaku yang tidak menginginkan kedamaian. Kebetulan di Desa Tangkura malam itu ada rencana kegiatan dero. Karena ketatnya penjagaan, kuat dugaan bom tersebut diletakkan pelaku di sembarang tempat.

Kapolda tidak bersedia membeber identitas lengkap dua pelaku yang sudah diidentifikasi tersebut dengan alasan masih dalam penyelidikan. Namun bocoran diperoleh koran ini, kedua pelakunya masih ada kaitannya dengan para pelaku yang masuk daftar pencarian orang (DPO). Polisi juga menduga sebagian rangkaian bom tersebut bahan bakunya diperoleh dari Palu seperti timer (jam).

Sekadar diketahui, bom meledak di Desa Betalemba Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Rabu (27/12) sekitar pukul 22. 00 Wita. Ledakan yang terjadi persis di pinggir jalan raya jurusan Poso-Napu (20 km dari kota Poso, red), tepatnya di depan rumah Albert Gariwo itu, sempat membuat warga desa Betalemba panik.

Pasalnya, suara bom yang menggelegar terdengar hingga radius puluhan meter. Apalagi saat itu, sebagian penduduk desa telah lelap dalam tidur, karena kondisi desa yang sedang diguyur hujan dan mati lampu.

Saat itu, dari hasil penyisiran tim jihandak yang di BKO-kan di Poso ditemukan 2 (dua) buah bom rakitan aktif lain yang terletak tidak jauh dari lokasi ledakan pertama. Yakni sekitar 15 meter dari TKP. Tim jihandak tak mau ambil risiko dan kemudian meledakan (men-disposal) kedua bom tersebut di TKP.

Dari olah TKP, polisi menemukan sejumlah barang bukti serpihan bom berupa, casing yang terbuat dari kaleng cat Avian, potongan besi, serta serpihan baterai. Namun polisi menyebutnya bom tersebut masuk kategori low explosive atau berdaya ledak rendah.***

Buntut Penyergapan Teroris, Seorang Polisi Tewas Dikeroyok

Poso – Jenazah Brigadir Polisi Satu Dedi Henra, Jumat (12/1/2006) pukul 07.15 WITA pagi ini diberangkat ke Jakarta dari Bandara Mutiara Palu dengan menumpang pesawat milik maskapai penerbangan Lion Air. Briptu Dedi adalah korban pengeroyokan ratusan warga di Lawanga, Poso Kota, Sulawesi Tengah.

Nasib Brigadir Polisi Satu Dedi Hendra (21) memang malang . Ia tewas dengan luka-luka di kepala akibat dikeroyok warga yang mengantar jenazah Ustadz Ryan ke Pemakaman Islam Lawanga, Poso Kota, Sulawesi Tengah, Kamis (11/1/2006) sekitar pukul 12.00 WITA. Ustadz Ryan sendiri adalah warga yang menjadi korban salah tembak tim Detasemen Khusus 88 Antiteror yang melakukan penyergapan di Jalan Pulau Jawa II, Kelurahan Gebangrejo, Poso Kota Kamis pagi kemarin.

Saat itu Dedi bersama kekasihnya mengendarai motor Yamaha RX King dari arah Kelurahan Tegalrejo kea rah Lawanga, Poso Kota. Tak dinyana, ia berpapasan dengan ratusan warga yang mengantar jenazah Ustad Ryan. Meski berpakaian preman, warga mengenali Dedi dari sepeda motor dinas Polri yang dikendarainya. Ia pun menjadi sasaran kemarahan warga. Ia dikeroyok ratusan warga hingga tewas di tempat kejadian.

Aksi ini merupakan buntut dari penyergapan di rumah Basri, salah seorang buronan kasus terorisme di Poso. Saat itu, Polisi salah tembak. Ustadz Ryan yang berada di sekitar lokasi kejadian sebelumnya sudah dilarang untuk mendekati tempat itu, namun ia keluar. Akhirnya ia pun tewas tertembak. Nah, warga yang marah itulah yang kemudian mengeroyok Dedi.

Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Badroddin Haiti menyatakan sampai saat ini belum ada satu pun yang diperiksa terkait pengeroyokan yang menewaskan anggota Polres Poso tersebut.

“Namun, kami sudah mengidentifikasi kelompok mereka. Kita masih akan melakukan penyelidikan terkait hal itu,” kata Badrodin.

Tentu saja, Dedi tidak akan pernah menyangka nasibnya akan seburuk itu. Ia baru bertugas delapan bulan lamanya di Poso. Ia sebelumnya ditugaskan di Kepolisian Daerah Jawa Barat. Mereka sebelumnya dikirim sebagai personil Bawah Kendali Operasi (BKO) Polres Poso. Saat itu, Kapolda Sulteng Brigjen Oegroseno berencana membentuk Kepolisian Resor Khusus di Poso. Namun sebelum Polresus terbentuk mereka ditempatkan di sejumlah pos kepolisian masyarakat (polmas).

Jumat pagi pukul 07.15 WITA, jenazah Dedi diterbangkan dengan menumpang pesawat komersil Lion Air menuju Bandara Cengkareng dan selanjutnya akan dibawa ke rumah duka di tanah kelahirannya di Garut, Jawa Barat.

Akibat kejadian itu, Kapolda Badrodin langsung memerintahkan penarikan seluruh anggota Polmas dari sekitar 60 pos di seluruh wilayah Kota Poso untuk menghindari bentrokan serupa.***

TNI vs Polisi, Dua Luka-luka

Poso – Kasus perkelahian antara anggota Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian terulang lagi di Poso. Jumat (12/1/2007) sekitar pukul 21.30 WITA, sekitar tujuh orang anggota TNI Angkatan Darat dari Batalyon 714 Sintuvu Maroso dan Batalyon Zeni Tempur Kodam VII Wirabuana menyerang pos Polisi Masyarakat di Sepe Silanca, Kecamatan Malei Lage. Akibat penyerangan itu, dua anggota Polisi dari Kepolisian Resort Poso terluka.

Kepala Kepolisian Resor Poso Ajun Komisaris Besar Polisi Rudi Sufahriadi membenarkan adanya kejadian itu.

“Kami sementara menyelidiki apa pokok masalahnya hingga terjadinya penyerangan itu,” kata Rudi.

Dari keterangan yang dikumpulkan, penyerangan ini merupakan buntut perkelahian serupa pada Kamis (11/1/2006) di Desa Tangkura, Kecamatan Poso Pesisir Selatan. Dari sumber di Kodim 1307 Poso didapat keterangan bahwa Kamis sore sekitar pukul 17.30 WITA, dua anggota Zipur mendatangi seorang anggota Polisi di pos Polmas Tangkura. Rupanya, sang anggota Zipur mendapat laporan jika teman wanitanya diganggu oleh anggota Polisi yang bertugas di sana . Tanpa mengecek lagi, anggota Zipur tadi memukuli anggota Polisi di pos tersebut.

Lalu pada malam harinya, sejumlah Polisi mendatangi pos anggota Zipur yang tengah membangun Rumah Tinggal Sementara (RTS) di Tangkura. Mereka balas menyerang.

Sampai kemudian pada Jumat malam dengan bersenjata sangkur sekitar tujuh anggota TNI AD mendatangi Pos Polmas Silanca dan menyerang dua anggota Polisi yang bertugas di sana . Akibatnya dua anggota Polisi terluka. Mereka adalah Brigadir Polisi Dua Ahmad dan Andri Gani.

Sementara itu, situasi Kota Poso saat ini dalam keadaan tenang. Tidak ada konsentrasi aparat TNI maupun Polisi. Sebab sebelumnya koordinasi antarkesatuan
sudah dilakukan antara Polres Poso dan Kodim 1307 Poso.***

Thursday, January 11, 2007

Jenazah Briptu Dedi Diterbangkan ke Garut, Jawa Barat

Poso – Jenazah Brigadir Polisi Satu Dedi Henra, Jumat (12/1/2006) pukul 07.15 WITA pagi ini diberangkat ke Jakarta dari Bandara Mutiara Palu dengan menumpang pesawat milik maskapai penerbangan Lion Air. Briptu Dedi adalah korban pengeroyokan ratusan warga di Lawanga, Poso Kota, Sulawesi Tengah.

Nasib Brigadir Polisi Satu Dedi Hendra (21) memang malang. Ia tewas dengan luka-luka di kepala akibat dikeroyok warga yang mengantar jenazah Ustadz Ryan ke Pemakaman Islam Lawanga, Poso Kota, Sulawesi Tengah, Kamis (11/1/2006) sekitar pukul 12.00 WITA. Ustadz Ryan sendiri adalah warga yang menjadi korban salah tembak tim Detasemen Khusus 88 Antiteror yang melakukan penyergapan di Jalan Pulau Jawa II, Kelurahan Gebangrejo, Poso Kota Kamis pagi kemarin.

Saat itu Dedi bersama kekasihnya mengendarai motor Yamaha RX King dari arah Kelurahan Tegalrejo kea rah Lawanga, Poso Kota. Tak dinyana, ia berpapasan dengan ratusan warga yang mengantar jenazah Ustad Ryan. Meski berpakaian preman, warga mengenali Dedi dari sepeda motor dinas Polri yang dikendarainya. Ia pun menjadi sasaran kemarahan warga. Ia dikeroyok ratusan warga hingga tewas di tempat kejadian.

Aksi ini merupakan buntut dari penyergapan di rumah Basri, salah seorang buronan kasus terorisme di Poso. Saat itu, Polisi salah tembak. Ustadz Ryan yang berada di sekitar lokasi kejadian sebelumnya sudah dilarang untuk mendekati tempat itu, namun ia keluar. Akhirnya ia pun tewas tertembak. Nah, warga yang marah itulah yang kemudian mengeroyok Dedi.

Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Badroddin Haiti menyatakan sampai saat ini belum ada satu pun yang diperiksa terkait pengeroyokan yang menewaskan anggota Polres Poso tersebut.

“Namun, kami sudah mengidentifikasi kelompok mereka. Kita masih akan melakukan penyelidikan terkait hal itu,” kata Badrodin.

Tentu saja, Dedi tidak akan pernah menyangka nasibnya akan seburuk itu. Ia baru bertugas delapan bulan lamanya di Poso. Ia sebelumnya ditugaskan di Kepolisian Daerah Jawa Barat. Mereka sebelumnya dikirim sebagai personil Bawah Kendali Operasi (BKO) Polres Poso. Saat itu, Kapolda Sulteng Brigjen Oegroseno berencana membentuk Kepolisian Resor Khusus di Poso. Namun sebelum Polresus terbentuk mereka ditempatkan di sejumlah pos kepolisian masyarakat (polmas).

Jumat pagi pukul 07.15 WITA, jenazah Dedi diterbangkan dengan menumpang pesawat komersil Lion Air menuju Bandara Cengkareng dan selanjutnya akan dibawa ke rumah duka di tanah kelahirannya di Garut, Jawa Barat.

Akibat kejadian itu, Kapolda Badrodin langsung memerintahkan penarikan seluruh anggota Polmas dari sekitar 60 pos di seluruh wilayah Kota Poso untuk menghindari bentrokan serupa.***

Enam Tersangka Teroris Poso Diperiksa Intensif di Polda Sulteng

Palu – Enam orang tersangka teroris yang ditangkap oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri, Polda Sulteng dan Polres Poso akhirnya dibawa ke markas Polda Sulteng di Jalan Sam Ratulangi, Palu, Sulawesi Tengah. Empat orang dalam keadaan luka-luka dan saat ini tengah dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara dengan pengawalan ketat. Sementara dua orang langsung dimasukan ke dalam tahanan Direkorat Reserse dan Kriminal Polda Sulteng.

Mereka yang ditangkap adalah Anang Muftadin alias Papa Enal (40), Abdul Muis (25), Upik Bonesompe alias Pagar (22) dan Paiman alias Sarjono (33). Keempat tersangka teroris ini ditangkap saat Densus 88 melakukan penyergapan di Jalan Pulau Jawa II di rumah Basri Kamis (11/1/2006) pukul 06.30 WITA kemarin. Sementara Ma’ruf Jainuri (30) dan Imran (20) yang tertangkap tangan membawa bom ditangkap sesudahnya. Mereka mendapat tugas melempari bom. Mereka ditangkap di Kelurahan Moengko, Poso Kota.

Saat ini, mereka tengah menjalani pemeriksaan intensif di Polda Sulteng. Begitu pun dengan empat tersangka teroris lainnya yang masih dirawat di RS Bhayangkara.

Sumber di Kepolisian menyatakan keenam tersangka teroris ini berasal dari satu jaringan yang sama. Mereka selama ini dikenal sebagai kelompok Mujahiddin Kayamanya dan Mujahiddin Tanah Runruh. Mereka diduga terlibat serangkaian aksi-aksi peledakan bom dan penembakan misterius di Poso dan Palu, Sulawesi Tengah.

Sejauh ini, belum ada keterangan terkait keterlibatan mereka. Namun Kapolda Sulteng Badrodin Haiti membenarkan bahwa keenamnya kini sudah ditahan di Polda Sulteng.

Dari tangan tersangka dan di kediaman mereka, Polisi berhasil menyita 12 pucuk senjata api rakitan, sepucuk M-16, dua pucuk SKS, sepucuk SS-1, sepucuk revolver SNW dan sepucuk GLM. Lalu sebuah magazen M-16 berisi 29 amunisi, amunisi caliber 119 butir, amunisi SKS 57 butir, amunisi V1 30 butir, amunisi SG sebutir dan amunis US Thompson 31 butir.

Sementara, hari ini, situasi Kota Poso terlihat tenang. Penjagaan hanya diperketat di lingkungan Polres Poso. Sementara di pos Kepolisian Masyarakat masih dikosongkan.***

Thursday, December 21, 2006

Teror di Poso Belum Berhenti, Pak Ucup

Teror demi teror masih terus terjadi di Poso sepanjang Januari hingga Desember ini, meski ribuan aparat keamanan sudah disiagakan. Ada yang bilang sebab politiklah yang memicu konflik, ada pula yang menyebutkan sebagai buah dari perebutan pengaruh antara aparat Kepolisian dan Tentara. Berikut ini laporan dari Poso atas kejadian sepanjang 2006.

Poso, 9 Januari 2006. Magrib belum lama usai. Tiba-tiba salakan senjata memecah kebeningan malam. Warga setempat pun terperanjat. Rupanya pasukan Batalyon Kavaleri Tentara Nasional Indonesia terlibat baku tembak dengan Satuan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah. Ini bukan kali pertama. Tahun-tahun sebelum, bahkan tanpa alasan yang jelas, bentrok bersenjata kerap terjadi. Beruntung tidak ada korban jiwa akibat bentrokan para serdadu itu.

Belum usai ketegangan akibat bentrok itu sekitar pukul 20.30 Waktu Indonesia Tengah, sebuah bom meledak di Gereja Sion. Teror sudah bermula, meski tak korban jiwa.

Esoknya, 10 Januari 2006, sebuah bom Molotov dilemparkan ke Kantor Satuan Tugas Pemulihan Keamanan Poso di depan Kantor Bupati Poso oleh orang yang tak dikenal. Teror pun makin menjadi.

Kondisi di Poso, meski tenang tapi tetap dihantui teror. Pada 1 Juli bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Bhayangkara Kepolisian Republik Indonesia, sebuah bom meledak di Kompleks Gereja Eklesia Poso. Warga setempat pun panic.

Sejak saat itu, teror demi teror bom pun terus terjadi. Sepanjang Januari hingga September warga Kota Poso dan Tentena dihantui peledakan bom, ancaman bom dan kekerasan bersenjata.

Klimaksnya pada 22 September pukul 01.15 WITA. Saat itu, tiga terpidana mati Poso Fabianus Tibo, Dominggus da Silva dan Marinus Riwu dihadapankan ke depan regu tembak Brimob Polda Sulteng. Usai sudah babakan perjuangan mereka mengharapkan kebebasan. Banyak yang berpikir, bara di Poso akan padam. Ternyata tidak. Api menyala kembali di Poso.

Pagi hari sesudah eksekusi itu, warga pun marah. Mereka mengamuk melempari Kantor Polsek Lage dan Polsek Pamona Utara meminta agar Brimob diusir dari Poso. Sejak saat itu, kondisi di Poso tegang.

Menyusul kemudian pada 28 September sebuah mobil Suzuki Carry pick up bernomor Polisi DD 8624 CT ditemukan di dalam jurang sedalam 30 meter di Desa Masewe, Taripa,Pamona Selatan. Pengemudianya Arham Badarudin (32 thn) & kondektur Wandi (17 thn), yang berasal dari Masamba, Luwu, Sulawesi Barat hilang. Keduanya baru ditemukan pada 7 Oktober telah menjadi mayat. Mereka ternyata menjadi korban pengeroyokan sekelompok warga di Taripa yang tidak puas atas eksekusi Tibo, dkk.

Dan kekerasan pun belum berhenti, sehari sesudah ditemukan mobil di dasar jurang tersebut, pada 29 September tiga mobil milik Polisi di Taripa dibakar massa.

Setelah itu berentetan teror terus terjadi di Poso. Sampai kemudian pada 16 Oktober 2006, sekitar pukul 08.00 WITA, warga Sulawesi Tengah terguncang. Sekretaris Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah Pendeta Irianto Kongkoli ditembak orang tidak dikenal di Jalan Robert Wolter Monginsidi, Palu Selatan di depan Toko Sinar Kasih. Pendeta penganjur damai itu langsung tewas di tempat.

Sulawesi Tengah pun berduka. Seluruh Umat Kristiani lalu mengibarkan bendera setengah tiang tanda berduka.

Kekerasan demi kekerasan seperti menemukan pemicu baru. Sampai kemudian 22 Oktober 2006, patroli Polisi dari Kesatuan Brigade Mobil bentrok dengan warga Kelurahan Gebangredjo. Saat itu, sebanyak 14 anggota Polisi terjebak di antara desingan peluru. Tak lama kemudian ratusan warga setempat mendatangi dan melempari pos itu. Situasi menjadi kacau balau di antara desingan peluru dan hantaman batu.

Belasan Polisi itu pun terpaksa mesti meminta bantuan melalui pesawat handy talky. Lalu sekitar 1 Satuan Setingkat Kompi Brimob Bawah Kendali Operasi Polres Poso dari Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat pun didatangkan. Mereka datang mengendarai baracuda, kendaraan lapis baja modifikasi milik Polri. Evakuasi pun dilakukan. Sejumlah anggota Polisi pun mengeluarkan tembakan beruntun.

Akibatnya, Syaifuddin alias Udin tewas diterjang peluru anggota Brimob, sementara Muhammad Rizky dan Maslan terluka parah diterjang timah panas pasukan elit Polri itu. Suasana pun makin memanas hingga dinihari. Beruntung sahur memutus amarah warga. Besok harus melaksanakan ibadah puasa lagi.

Suasana lalu kembali tenang, sebab suasana Idul Fitri mendinginkan hati.

Ternyata peristiwa demi peristiwa yang terjadi sepanjang tahun membuat gerah Wakil Presiden Yusuf Kalla. Ia pun mengusahakan bertemu dengan sejumlah tokoh Islam dan Kristen di Gubernuran Siranindi, Palu, Sulawesi Tengah. Banyak hal yang dibicarakan. Ada beberapa hal penting bisa menjadi catatan. Sebelumnya, pernyataan Kalla agar Polisi menangkap teroris di Poso memantik kecaman. Sebab lagi-lagi Kalla melihat kelompok tertentu di Poso terlibat dalam aksi kekerasan itu.

Soalnya Kalla pernah menuduh Ustadz Adnan Arsal, pimpinan Pondok Pesantren Amanah Poso mengetahui siapa pelaku mutilasi tiga siswi SMU Kristen GKST Poso pada 29 November 2005. Tentu saja Adnan berang dituding seperti itu. Makanya ketika Kalla
mengeluarkan statemen seperti itu, mata semua orang pun menohok Adnan yang jauh-jauh hari sudah mengeluarkan bantahan dirinya terlibat dalam aksi-aksi kekerasan itu. Sebab menurutnya pesantrennya hanya mengajarkan kurikulum yang berbasis pada kurikulum pendidikan agama dari Departemen Agama Republik Indonesia.

Kenyataan memang sejumlah pelaku teror memang terkait dengan Ustad Adnan. Ia bahkan mengakui pernah mendidik mereka.

Bahkan 29 buronan kasus terorisme di Poso dan Palu yang dikeluarkan Mabes Polri pun rata-rata mengenal Ustad Adnan. Tapi Polisi sendiri tidak pernah bisa membuktikan keterlibatan Ustad Adnan.

Usai pertemuan itu sebuah tim pencari fakta diturunkan ke Poso. Sayang hingga kini laporannya tak kunjung diketahui masyarakat. Padahal teror demi teror masih terjadi di Poso.

Pada awal Desember dua bom yang kembali meledak di Stadion Kasintuwu, Poso Kota kian menegaskan bahwa teror memang belum berhenti, Pak Ucup (sapaan wapres Jusuf Kalla—red)

Karena itu, Polisi benar-benar khawatir. Meski tentu saja tidak berharap kekerasan di Poso akan kembali menelan korban, namun tak kurang dari 5000 personil aparat keamanan disiagakan menjelang Natal 25 Desember dan Tahun Baru 1 Januari 2007 serta Idul Adha 31 Desember 2006.

Kepala Polda Sulteng Brigjen Pol Badrodin Haiti menyatakan bahwa Poso dan Palu menjadi pusat pengamanan mengingat teror dan kekerasan yang terjadi di dua kota penting di Sulawesi Tengah ini.

“Kita menyiagakan dua pertiga kekuatan untuk pengamanan ketiga peringatan keagamaan itu. Jumlahnya tidak kurang dari 5000 personil gabungan Polri dan TNI untuk mengantisipasi gangguan keamanan yang bisa saja terjadi. Dan jumlah itu dirasakan cukup, jadi tidak ada penambahan pasukan lagi,” urai Badrodin.

Sekadar menjadi catatan, saat ini, sekitar 5000-an aparat keamanan telah menyebar di berbagai titik rawan keamanan di Poso. Untuk satuan kepolisian saja, sekitar 2000-an personil organik berada di Poso. Ini diluar pasukan BKO (Bawa Kendali Operasi) Brimob yang dimobilisasi menjelang eksekusi Tibo CS lalu, dan pasca kejadian Bom dan kosentrasi massa di Kelurahann Sayo, 30 September 2006 pekan lalu. Terhitung, saat ini ada 10 Satuan Setingkat Kompi (SSK) atau sekitar 1000-an Brimob, dari berbagai daerah berada di Poso. Termasuk dari Kelapa Dua Depok, Sat Brimobda Sulut dan Kalimantan Timur.

Sebaliknya, dari TNI AD terdapat 1.362 personel. Rinciannya, personel dari Kodim 1307 Poso sebanyak 208 orang, dari Yonif 714/Sintuwu Maroso 578 orang, Kompi senapan B Yonif 711/Raksatama 106 orang, Batalyon Kavaleri 10/Serbu Kodam VII/Wirabuana 400 orang, dan dari Tim Sandi Yudha Kopassus 12 orang. Hal ini di luar rencana akan mendatangkan 2 batalyon BKO lagi ke Poso. Ditambah dengan satu Batalyon Zeni Tempur yang didatangkan untuk membantu pembangunan lebih dari 1000 unit rumah tinggal sederhana bagi korban konflik Poso.

Saat ini juga Polres Poso mengaktifkan sekitar 50 pos keamanan, termasuk Pos Polisi Masyarakat yang melibatkan tidak kurang dari 2302 personil gabungan TNI dan Polri.

Akankah Natal, Tahun Baru dan Idul Adha di pengujung tahun ini berlangsung dalam kedamaian? Kita semua harus mengupayakannya dan tentu saja itu tugas Polisi.***

Friday, December 01, 2006

Menag Nilai Kondisi Poso Kondusif

Poso - Menteri Agama (Menag) M Maftuh Basyuni menilai kondisi Kota Poso, Sulawesi Tengah dalam keadaan kondusif. Namun akan berantakan lagi jika tidak dipelihara.

Demikian disampaikan Menag M Maftuh Basyuni saat membuka Kemah Pemuda Lintas Agama dan Gelar Budaya Kabupaten Poso, Jumat (1/12) siang di Poso. Di depan ratusan pemuda Poso dari berbagai agama Maftuh menyatakan perkemahan itu untuk menyatukan hati pemuda Poso yang tercerai-berai oleh konflik.

"Saya senang kondisi Kabupaten Poso kini kondusif. Tetapi kondisi yang menguntungkan ini bisa jadi berantakan lagi kalau tidak ada keinginan kita untuk memeliharanya," kata Maftuh.

Gubernur Sulteng HB Paliudju pada kesempatan sama menyatakan keyakinannya perkemahan tersebut mampu menumbuhkan rasa persaudaraan, kebangsaan dan persatuan di kalangan pemuda Poso.

"Saat ini masyarakat Poso memasuki fase kehidupan pasca-konflik dan sudah banyak belajar bahwa konflik hanya membawa kesengsaraan," kata Mayor Jenderal Purnawirawan TNI AD tersebut.

Anggota Komisi VIII DPR RI Agung Saksono, anggota DPD RI Faisal Mahmud, Dirjen Bimas Islam Nasaruddin Umar, Dirjen Bimas Kristen Jason Lasse, Dirjen Bimas Katholik Stef Agus, Dirjen Hindu Yudha Triguna, Dirjen Budha Budi Setyawan turut menghadiri perkemahan ini. Selain itu, tentu saja juga dihadiri oleh Kapolda Sulteng Brigadir Jenderal Badrodin Haiti, para tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat Poso.

Untuk diketahui, saat ini tidak kurang 1.600 aparat kepolisian dari Polres Poso bersiaga di berbagai titik rawan dalam kota ditambah 900 pasukan BKO (bawah kendali operasi) dari Satuan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Selatan dan Mabes Polri, Jakarta.***

Korupsi Dana Pengungsi Poso, Bekas Gubernur Sulteng Disidang

Palu - Bekas Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Prof Aminuddin Ponulele, Rabu (29/11/2006) menjalani persidangan perdana di Pengadilan Negeri Palu, Sulawesi Tengah. Ia diduga terlibat dalam kasus korupsi dana trasportasi pemulangan pengungsi Poso sebesar 1,2 miliar pada tahun 2001 lalu.

Persidangan yang dibuka untuk umum ini diketuai oleh Majelis Hakim Faturrahman SH dan empat hakim anggota, yakni Efendi SH, Ibrahim Palino SH, Arisboko SH dan Pranoto SH. Agenda sidang yang digelar hari ini adalah pembacaan dakwaan oleh tim Jaksa Penuntut Umum yang ketuai oleh Rusdia Tangdilintin SH.

Bekas gubernur Sulteng itu didakwa dengan dakwaan primer pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) Jonto pasal 18 ayat (1) Huruf b, ayat (2) dan (3) Undang-Undang No. 31 tahun 1999, diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 Junto pasal 55 ayat (1) ke 1, Junto pasal 64 ayat (1) KUHP, tentang Tindak Pidana Pemberantasan Korupsi. Sedangkan dakwaan Subsider pasal 3 Junto pasal 18 ayat (1) Huruf b ayat (2) dan (3) Undang-Undang No. 31 Tahun 1999, diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 Junto pasal 55 ayat (1) ke 1 pasal 64 ayat (1) KUHP.

Bekas gubernur Sulteng dinilai telah menyalahgunakan kewenangan, kesempatan ataupun sarana yang ada. Termasuk juga karena jabatan atau karena kedudukan selaku ketua Satkorlak. Dan dalam kesimpulan hukum perbuatan tersebut adalah tidak sesuai dengan petunjuk operasional penangggulangan bencana sosial Sulteng tahun anggaran 2001. Dan telah merugikan negara sebesar Rp 1,258.750.000 milyar.

Dakwaan setebal 10 halaman itu dibacakan secara bergantian. Dalam persidangan yang berlangsung satu jam itu, pihak penasehat hukum Aminuddin Ponulele akhirnya mengajukan eksepsi. Eksepsi ini diajukan oleh Tim Penasehat Hukum Aminuddin Ponulele karena dalam dakwaan JPU banyak terdapat kelemahan-kelemahan.

Sidang dengan pembacaan eksepsi akan dilajutkan Selasa (5/12/2006) pekan depan.

Blog Info

BLOG ini berisi sejumlah catatan jurnalistik saya yang sempat terdokumentasikan. Isi blog ini dapat dikutip sebagian atau seluruhnya, sepanjang menyebutkan sumbernya, karena itu salah satu cara menghargai karya orang lain. Selamat membaca.

Dedication Quote

ORANG yang bahagia itu akan selalu menyediakan waktu untuk membaca, karena itu sumber hikmah. Menyediakan waktu tertawa karena itu musiknya jiwa. Menyediakan waktu untuk berfikir karena itu pokok kemajuan. Menyediakan waktu untuk beramal karena itu pangkal kejayaan. Menyediakan waktu untuk bersenda gurau karena itu akan membuat awet muda.Menyediakan waktu beribadah karena itu adalah ibu dari segala ketenangan jiwa. [Anonim]